Soal Kenaikan HPP Gabah oleh Pemerintah, Wamentan Sudaryono: Untuk Selamatkan Petani dari Tengkulak

Avatar photo

- Pewarta

Senin, 20 Januari 2025 - 20:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono. (Dok. Kementan)

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono. (Dok. Kementan)

PERTANIANNEWS.COM – Keputusan kenaikan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah oleh pemerintah dapat menyelamatkan petani dari tengkulak.

Dari sisi produksi, saat ini petani sedang semangat menanam, sehingga kenaikan HPP dapat mendorong produktivitas tersebut sekaligus meningkatkan pendapatan mereka.

Namun, di sisi lain, ancaman dari tengkulak masih perlu diperhatikan.

Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengatakan hal tersebut di Jakarta, Senin (20/1/2025).

“Presiden Prabowo sudah memberikan keputusan harga gabah HPP-nya kita naikkan dari Rp6.000 ke Rp6.500.”

“Nah, ini ada beberapa daerah yang lebih rendah dari Rp6.500, kita langsung datangi, kita tanya apa masalahnya.”

“Jangan sampai tengkulak ini jadi kompeni baru, saya selalu mengatakan begitu,” kata Sdaryono.

“Kita sedang banyak keliling ke daerah untuk memastikan harga pembelian gabahnya harus bagus.

“Namun, tengkulak itu, bagaimana dia tidak ikut menanam, tidak ikut memupuk, tidak ikut ke sawah.”

“Hanya beli, tetapi dia mengambil untungnya paling banyak. Saya kira itu salah satu program besar yang kita laksanakan,” ujar dia.

Menurutnya, kenaikan HPP gabah juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani.

Mengingat saat ini, profesi sebagai petani masih menjadi penyumbang kemiskinan tertinggi di Indonesia.

Sudaryono juga menyampaikan bahwa saat ini Kementan tengah fokus menyesuaikan anggaran.

Untuk mendukung swasembada pangan sesuai arahan Presiden Prabowo untuk tidak mengimpor beras di tahun 2025.

“Kita sudah ditargetkan oleh Presiden, tidak boleh impor beras di tahun 2025.”

“Tidak impor beras, jagung, gula konsumsi, dan tidak impor garam konsumsi.”

“Sehingga kita melakukan segala daya upaya, termasuk menyesuaikan anggaran, kita fokus kepada satu, yakni swasembada pangan itu.”

“Kita mulai dulu dari beras dan jagung, kita bereskan, nanti kita pelan-pelan,” ucapnya.

Ia juga menekankan bahwa proyek strategis nasional food estate adalah sebuah keniscayaan, di mana saat ini Kementan tengah fokus membuka lahan di daerah rawa.

“Kita ini kan penduduknya tambah banyak, lahan pertanian tambah makin lama, ada yang dipakai untuk pabrik, untuk apa, dan lain sebagainya.”

“Nah itu mau enggak mau kita harus ada pembukaan lahan baru di daerah-daerah yang lebih banyak rawa.”

“Karena kalau rawa itu enggak perlu mikir air, sudah ada airnya, kalau di gunung-gunung, di mana-mana kan kadang susah harus bikin irigasi dan seterusnya,” tuturnya.***

Berita Terkait

SPHP Jagung Pakan 52.400 Ton Diberikan Untuk Tekan Harga Telur Nasional
Jawab Arahan Prabowo, Pemerintah Bergerak Cepat Bantu Peternak
Pasokan Beras Nasional 2025 Meningkat, FAO Akui Kekuatan Indonesia
Indonesia Bangun Bank Genetik, Strategi Baru Ketahanan Pangan
Mengungkap Strategi Pemerintah Atasi Fluktuasi Harga Jagung Peternak
Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan, Distribusi Beras SPHP Ditargetkan Capai 7.000 Ton per Hari
Satgas Pangan Bongkar Kelemahan QC PT PIM, Beras Premium Terancam Citra
Satgas Pangan Usut Dugaan Kecurangan 10 Produsen Beras Nakal Laporan Kementan

Berita Terkait

Senin, 8 September 2025 - 16:45 WIB

SPHP Jagung Pakan 52.400 Ton Diberikan Untuk Tekan Harga Telur Nasional

Selasa, 2 September 2025 - 14:03 WIB

Jawab Arahan Prabowo, Pemerintah Bergerak Cepat Bantu Peternak

Jumat, 29 Agustus 2025 - 09:31 WIB

Pasokan Beras Nasional 2025 Meningkat, FAO Akui Kekuatan Indonesia

Kamis, 28 Agustus 2025 - 09:29 WIB

Indonesia Bangun Bank Genetik, Strategi Baru Ketahanan Pangan

Selasa, 26 Agustus 2025 - 13:58 WIB

Mengungkap Strategi Pemerintah Atasi Fluktuasi Harga Jagung Peternak

Berita Terbaru